Polemik Pangan vs Biofuel, Ilalang Siap Menjawabnya

Jumat, 18 Februari 2011 – 15:52:08

Oleh Wedha Augusta

SUMBER :
http://www.planethijau.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=49&artid=1513


Pengembangan biofuel masih terbebani dengan masalah pemanfaatan untuk pangan ataukah bahan bakar. Berbagai riset –seperti yang dilakukan University of Illinois pada ganja atau University of Connecticut pada tequila— dilakukan untuk menggantikan tanaman pangan yang saat ini masih digunakan untuk menghasilkanbiofuel.

Salah satu yang ditawarkan adalah riset yang dilakukan oleh para peneliti di The Samuel Roberts Noble Foundation and Fermentation Research yang merupakan salah satu divisi riset di Oak Ridge National Laboratory. Bagi mereka switchgrass atau ilalang merupakan salah satu solusi terhadap hambatan pengembangan biofuel.

Tidak berbeda jauh dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Argonne National Laboratory bersama dengan University of Chicago, para ilmuwan di Oak Ridge National Laboratory melakukan rekayasa genetik terhadap ilalang yang mampu tumbuh setinggi 2,7 meter itu untuk menurunkan produksi lignin dan sekaligus meningkatkan produksi ethanol.

Pada ilalang ini, lignin diketahui banyak mengikat selulose sehingga dengan menurunkan jumlahnya sebesar 1/4 dari produksi alaminya, maka selulose bisa didapat dengan mudah dan pengolahannya menjadi glukosa juga akan lebih sederhana. Sisi positifnya produksi ethanol menjadi meningkat hingga 40%.

Para peneliti tersebut memerlukan dua langkah dalam proses produksi ethanol dari ilalang. Pada fase awal proses, biomassa harus melalui perlakuan khusus dengan melibatkan asam panas untuk memudahkan selulosa diurai oleh enzim. Dengan tanaman rekayasa yang mereka buat, suhu yang diperlukan untuk proses tersebut lebih rendah daripada biasanya. Penurunan suhu ini juga menghemat pemakaian energi. Langkah selanjutnya adalah fase fermentasi, dimana gula yang didapat dari selulosa kemudian diurai menjadi alkohol dengan bantuan enzim.

Enzim yang menjadi penghemat biaya terbesar pada proses ini steril dari bakteri. Karena menggunakan ilalang rekayasa, maka volume enzim yang dipakai menyusut menjadi sepertiganya. Pengurangan volume ini juga berimbas pada penghematan biaya produksi.

Dengan kemampuan ilalang itu untuk tumbuh tanpa memerlukan campur tangan manusia, maka tumbuhan tersebut bisa menjadi alternatif lainnya untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar bio. Murah dan mudah, serta tidak perlu lagi diperdebatkan sebagai bahan pangan atau bahan bakar bio.
ars technica

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: