Pabrik Biodiesel OKUT Butuh Pasokan Jarak Pagar

Martapura, Sumatera Selatan : Pabrik biodiesel dan pengolahan minyak jarak pagar yang dibangun di Provinsi Sumatera Selatan, sejak 2006 hingga kini pengoperasiannya masih terhambat ketersediaan bahan baku yakni biji jarak pagar (Jathropa curcas).

      
 

 “Masyarakat tidak tertarik menanam jarak yang bijinya hanya bisa dijual seharga Rp2.000 per kilogram, mereka lebih suka menanam karet yang getahnya berharga Rp12 ribu sampai Rp14 ribu per kilogram,” kata Wakil Bupati Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Sumatera Selatan, Kholid Mawardi disela penyerahan pabrik biodiesel dan pengolah biji jarak dari Kementerian Riset dan Teknologi kepada pemerintah Kabupaten OKUT di Martapura,Minggu (17/1).

      
 

Menurut Kholid Mawardi , harga biji jarak pun sulit dinaikkan karena untuk membuat satu liter minyak biodiesel dibutuhkan tiga kilogram biji jarak sehingga jika ditambah dengan biaya produksi lain maka harga jual biodiesel lebih besar dari harga solar bersubsidi yang sekitar Rp 4.500 per liter.

      
 

Kholid mengatakan, sebenarnya masyarakat di wilayahnya sudah biasa menanam jarak pagar namun hanya untuk memagari kebun. Dia berharap pemerintah memberikan subsidi kepada petani yang menanam jarak pagar supaya masyarakat termotivasi menanam tanaman yang bisa tumbuh di lahan marjinal itu guna memenuhi kebutuhan produksi minyak biodiesel.

 
 

Pabrik biodiesel berkapasitas enam ton per hari di OKUT yang pengoperasiannya diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga kini tidak bisa setiap hari beroperasi karena terkendala ketersediaan bahan bakunya.

 
 

Penanaman ribuan pohon jarak pagar di wilayah itu, yang kini telah berbuah, pun belum bisa menjamin pasokan bahan baku dalam jumlah memadai secara berkesinambungan. Saat memberikan sambutan pada penyerahterimaan pabrik, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata mengakui kekurangan itu.

       
 

Namun, kata Suharna Surapranata , bagaimanapun sumber daya energi fosil di Indonesia sudah sangat terbatas sehingga sumber energi alternatif harus terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi pada masa depan.

 
 

“Cadangan minyak bumi tinggal untuk 20 tahun lagi, gas alam akan habis 50 tahun lagi, cadangan batu bara juga rendah. Energi alternatif adalah upaya untuk menjamin keberlanjutan penyediaan energi berdampak lingkungan minimal,” katanya.

       
 

 Selain menyerahkan pabrik biodiesel kepada Kabupaten OKUT, Kementerian Riset dan Teknologi juga menyerahkan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida, dengan energi dari angin, surya serta diesel dari biji jarak dan kosambi), kepada Kabupaten Rote Ndao dan Timor Tengah Utara di Nusa Tenggara Timur. (dew/L)

Sumber : http://portal.ristek.go.id/news.php?page_mode=detail&id=1697

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: